Sabtu, 11 Oktober 2014

Rahasia Allah tentang Jodoh

 Setelah lama tidak berbagi, entah kenapa malah cerita ini yang ingin saya posting :) rasanya kata "jodoh" dan "pernikahan" semakin sensitif saja jika terdengar ;)

Cinta Yang Tersimpan

Cahya adalah seorang mahasiswa semester dua jurusan Ekonomi Syariah di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di daerah Garut. Nama lengkapnya adalah Cahya Abdullah. Tidak terasa lebih dari enam bulan sudah cahya kuliah disana. Namun penampilannya tidak banyak berubah. Wajahnya masih terlihat seperti seorang anak SMA kelas 2. Cahya memang dikenal memiliki wajah yang baby face. Tubuhnya yang tinggi kurus semakin mendukung wajahnya yang imut-imut. Pribadinya yang sederhana dan murah senyum membuat ia disukai banyak orang. Cahya dikenal lugu dan sangat baik. Sepertinya cahya terlahir tanpa diberi kemampuan untuk mengatakan tidak pada setiap permintaan yang di arahkan padanya. Setiap kali teman-temannya meminta bantuan pada cahya, tak pernah sekalipun ia menolaknya. Jika berbicara senyum dibibirnya tidak pernah menghilang. Beberapa orang teman sekelasnya bahkan menganggap cahya terlahir tanpa memiliki kemarahan. Karena tidak ada satu orangpun yang tahu bagaimana mimik cahya ketika marah. Selama tujuh bulan sekelas dengan cahya tak pernah ada yang melihatnya marah, termasuk saya.

Saya adalah sahabat baiknya. Dia adalah teman terbaik yang saya miliki di kampus.

Cahya memiiki tiga orang adik. Salah satu dari adiknya tersebut bersekolah dan mondok di Madrasah Aliyah Negeri Garut, tempat yang sama dimana dulu cahya bersekolah. Sebuah pesantren ternama di daerah Garut.  Adiknya bernama Bagas. Ia kini duduk di kelas satu. Hampir setiap minggu cahya mengunjungi bagas, sehingga hampir setiap minggu pula cahya diam-diam memprhatikan seorang murid kelas dua bernama Lina Permata. Lina merupakan orang yang disukai oleh cahya sejak ia masih bersekolah disana. Sudah hampir dua tahun cahya memendam perasannya itu. Beberapa orang dari temannya padahal sudah memberi tahu cahya bahwa sebenarnya lina juga menyimpan perasaan yang sama pada cahya. Tapi ternyata hal itu tidak cukup untuk meyakinkan hati cahya. Semakin cahya melihat lina, maka semakin besar pula keinginannya untuk mengungkapkan perasaannya selama ini pada lina. Tapi ia tak pernah memiliki keberanian.

Entah apa yang terjadi pada siang itu. Tiba-tiba saja cahya mendapatkan kayakinan yang besar untuk menemui lina. Tepat di bawah pohon besar yang dihiasi oleh bunga disekelilingnya cahya mengungkapkan perasaannya pada lina. Saat cahya selesai berbicara lina hanya terdiam. Dengan perasaan yang tidak menentu cahya menatap lina dengan perasaan penuh harap. Saat itu Lina terlihat sangat cantik meskipun hanya mengenakan seragam putih abu-abu dan kerudung putih yang tertiup angin dengan lembut. Perlahan lina yang tertunduk menaikan kepalanya dan dengan malu-malu mengatakan kata “ya!” yang seakan berat untuk terucap. Sepelan apapun suara lina ketika itu terdengar sangat jelas di telinga cahya. Senyuman langsung menghiasi bibir mereka. Tanpa disangka pandangan keduanya saling bertemu yang kemudin membuat mereka kembali menunduk seraya malu-malu. Ketika itu bel yang berbunyi membuat lina harus segera kembali ke kelasnya. Dengan perasaan yang sangat senang cahya memutuskan untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan menuju rumah senyuman di bibir cahya tidak menghilang sedetikpun. Sesampainya dirumah cahya langsung mandi sambil bernyanyi. Guratan kebahagiaan tergambar jelas diwajahnya.

Hari terasa berlalu begitu lama. Siang itu cahya terlihat gelisah di kelas. Berkali-kali ia melihat jam tangan ditangan. Seperti yang tidak sabar menunggu waktu pulang. Berbeda dari biasanya, hari itu cahya sangat rapi dengan kemeja putih dan celana hitam yang dikenakanhya. Sesekali ia tersenyum. Aneh sekali. Ketika dosen mengakhiri perkuliahan cahya langsung bergegas pulang. Ternyata ia segera menuju sekolah tempat lina mondok. Sesampainya di MAN Garut cahya langsung mencari lina. Lina adalah anak yang pemalu. Melihat kedatangan cahya, lina menyembunyikan dirinya dibalik pintu. Sedang cahya melihat kesana kemari mencari sosok lina yang dirindukannya meskipun baru kemarin mereka bertemu.

Tidak lama kemudian bel berbunyi membuat semua siswa masuk kedalam kelas. Cahya kembali terduduk tepat dibawah pohon tempat kemarin ia bertemu dengan lina. Perlahan terdengar kedatangan seseorang yang sedang menuju kearahnya. Sungguh tidak cahya duga sebelumnya. Ia adalah lina. Senyuman kembali mengembang di bibir cahya. Ia langsung mengeluarkan coklat yang telah disiapkannya untuk lina. Peetemuan keduanya memang selalu singkat. Sebelum kembali ke kelas lina menyerahkan secarik kertas berisi nomor telepon. Sambil berjalan lina kembali menoleh kearah cahya. Lina tersenyum kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Cahya kala itu hanya berdiri memandang lina hingga tidak terlihat lagi.

Sesampainya dirumah cahya langsung menghubungi nomor yang ia terima dari lina. Ternyata itu adalah no hp teman lina. Lina memang tidak membawa hp ke tempat ia mondok karena hal itu tidak diperbolehkan.

Empat bulan berlalu. Cahya mulai jarang bertemu dengan lina. Berkali-kali cahya mencoba menghubungi lina. Tapi lina tidak pernah membalas pesan yang dikirim cahya lewat teman lina. Setiap kali cahya mengunjungi adiknya cahya juga tidak pernah melihat lina. Rupanya lina mulai menghindar. Lina memang masih duduk di bangku sma sehingga ia mulai jenuh dengan hubungannya. Selain itu pribadi lina dan cahya yang sama-sama pemalu membuat mereka semakin jaarang berkomunikasi.

Cahya yang mulai sulit menemui lina membuatnya menyibukan diri dengan berbagai aktivitas. Cahya memutuskan untuk mengikuti salah satu kegiatan pelatihan diisebuah rumah makan. Disana ia bertemu dengan intan ismaya teman sekolahnya ketika SD. Kebetulan sekali mereka duduk bersebelahan sehingga sepanjang pelatihan mereka terlibat sebuah percakapan yang membuat cahya kembali mengenang masa lalu di SD dulu. Intan kini kuliah di sebuah Perguruan Tinggi jurusan PGTK.  Setelah  kurang lebih tujuh tahun tidak bertemu, membuat keduanya pangling dengan perubahan masing-masing. Sebelum pelatihan berakhir mereka salang bertukar nomor telepon.

Sebenarnya rumah cahya dan intan masih satu komplek di Perum Indah Nugraha. Tapi aktivitas masing-masing setelah lulus SD membuat mereka tidak pernah saling bertemu.

Dua minggu setelah pelatihan cahya menjadi panitia 17 agustusan. Ketika rapat pembentukan kepanitiaan cahya kembali bertemu dengan intan. Tidak disangka ternyata cahya dan intan mendapat tugas yang sama yaitu seksi dekorasi dan dokumentasi. Posisi itu membuat mereka semakin dekat dan lebih mengenal satu sama lain. Berkali-kali mereka pergi bersama untuk membeli perlengkapan dekorasi dan dokumentasi. Sepanjang kegiatan mereka selalu bersama. Ketika menjadi seksi dokumentasi intan dan cahya sibuk memotret ini itu sambil terus bercanda. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang-orang disekeliling mereka tengah memperhatikan mereka.

Setelah kegiatan berakhir barulah mereka menyadari bahwa sebuah berita telah berkembang di warga sekitar rumah mereka. Orang-orang beranggapan bahwa cahya dan intan adalah sepasang kekasih. Hal itu tentu saja membuat mereka tertawa geli. Karena pada kenyatannya mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Berbeda dengan lina, intan adalah pribadi yang periang dan senang bercanda. Ia mudah sekali dekat dengan siapa saja orang yang ditemuinya. Semakin lama tidak terasa cahya dan intan ternyata semakin dekat. Intan mulai menyukai pribadi cahya yang baik  lebih dari sekedar teman. Intan merasa nyaman ketika berada di dekat cahya. Tapi intan menyadari betul bahwa sebenarnya apa yang ia harapkan tidak mungkin terjadi. Intan tau betul kalau sebenarnya cahya telah memiliki kekasih bernama lina. Karena beberapa kali cahya pernah menceritakan masalah yang kini di hadapinya bersama lina.

Perasaan yang dirasakan oleh intan membuat intan menjauh dari kehidupan cahya dengan perlahan. Intan lebih memilih menjaga persahabatannya dengan cahya. Baik intan, lina maupun cahya, ketiganya sama-sama memiliki kepribadian yang sangat baik. Bahkan intan dan lina sama-sama mengenakan jilbab sehingga mereka sangat menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. Ya walaupun mereka tidak pernah memungkiri bahwa perasaan kagum itu terkadang mereka rasakan.

Dua tahun berlalu. Kini cahya sudah memasuki semester enam kuliahnya. Lina bahkan sudah lulus dari man garut dan kini belajar di pesantren Nurul Iman Garut. Tentu saja hal itu membuat cahya semakin jauh dari lina. Bahkan sudah hampir tujuh bulan cahya tidak mendapatkan kabar dari lina. Cahya adalah sosok laki-laki yang setia. Selama lina tidak meninggalkannya, maka cahya akan terus mempertahankan hubungannya walaupun dengan status yang tidak jelas. Sebenarnya jauh dalam hatinya, cahya juga menyimpan perhatian pada intan. Diam-diam cahya sering memperhatikan intan dari kejauhan. Tapi hubungannya dengan lina yang belum berakhir namun tidak menentu membuat cahya harus mengubur dalam perasannya pada intan.

Takdir ternyata kembali mempertemukan cahya dan intan. Mereka kembali terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang sama di komplek rumahnya. Lama memang mereka tidak saling bertemu secara langsung. Tapi sebenarnya keduanya diam-diam masih saling memperhatikan. Walaupun dua tahun berlalu, intan sebenarnya masih menyimpan perasaannya pada cahya. Begitupun dengan cahya yang sebenarnya juga menyukai intan diam-diam. Cahya selalu merasa nyaman ketika berada di dekat intan. Intan adalah sosok yang dirasakan cahya sangat bisa memahami perasannya.

Berawal dari sebuah kepanitiaan akhirnya membuat mereka saling membuka komunikasi kembali. Bahkan pada suatu malam mereka saling bercanda melalui media sosial. Tanpa terasa suasana yang semakin larut malam ternyata membuat cahya mengungkapkan satu per satu dari harapan terbesar dalam hidupnya. Salah satunya Cahya mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin intan menjadi isterinya kelak. Selain itu, cahya juga mengungkapkan bahwa sampai sekarang ia masih belum berpisah dengan lina. Hubungannya kini semakin tidak menentu dengan lina ungkap cahya pada intan. Kata-kata cahya membuat intan merasa iba. Tanpa dipikirkannya matang-matang intan yang terbawa suasana mengatakan bahwa ia akan menunggu cahya hingga datang melamarnya. Percakapan mereka malam itu membuat keduanya sulit untuk tertidur.
Keesokan harinya intan berangkat kuliah seperti biasa. Dikampus rupanya tengah beredar sebuah berita besar. Kirana teman intan di kampus dikabarkan akan menikah bulan depan. Yang membuat heboh bukanlah kabar dari pernikahannya, melainkan orang yang akan dinikahi oleh kirana. Sebelumnya intan mengira kirana akan menikah dengan hendra kekasihnya selama ini. Tapi ternyata kirana menikah dengan orang lain. Semua orang tengah sibuk membayangkan betapa sedihnya perasaaan hendra (pacar kirana) mendengar kabar bahwa kirana akan segera menikah.

Kabar tentang kirana membuat intan sedikit shock. Kirana dan hendra adalah orang yang sangat dekat dengan intan. Intan sendiri tidak percaya bagaimana mungkin kirana yang sejak masuk kuliah membina sebuah hubungan sampai tingkat tiga dengan hendra tiba-tiba akan menikah dengan orang lain.
Apa yang dialami oleh kirana membuat intan memikirkan ulang masa depannya. Ia langsung teringat akan janji yang ia berikan pada cahya dua hari sebelumnya. Intan berusaha menemukan akhir dari janjinya. Akankah pada akhirnya intan berjodoh dengan cahya? Padahal saat ini cahya masih belum memutuskan hubungannya yang belum jelas dengan lina. Lalu bagaimana bisa intan terus menunggu cahya tanpa sebuah kepastian.

Siang itu intan memutuskan untuk menghubungi cahya. Intan menyampaikan maafnya pada cahya karena ia ingin menarik kembali janjinya untuk menunggu cahya. Cahya terlihat sedikit heran. Tapi intan rupanya sudah memantapkan hatinya. Sebelum manarik kembali janjinya, intan mengungkapkan bahwa sebenarnya ia bersedia menunggu cahya melamarnya selama apapun itu asalkan cahya memberikan sebuah kepastian. Tapi cahya malah menanggapinya dengan candaan. Pada akhirnya hubungan antara intan dan cahya kembali menjauh. Baik intan maupun cahya keduanya merelakan semua yang terjadi. Mereka meyakini bahwa pada akhirnya hal terbaiklah yang akan terjadi.

Keputusan kirana untuk menikah membuat intan turut memikirkan langkahnya. Akhirnya intan memantapkan hatinya untuk turut menyusul langkah yang diambil kirana. Intan adalah seorang perempuan berusia 21 tahun. Usia yang dirasakannya cukup untuk menjalani sebuah pernikahan. Apalagi intan berpikir cukup sudah selama ini ia merasakan kekecewaan. Kini ia ingin menjalani kehidupannya dengan didampingi oleh orang yang akan menjaganya dengan baik.

Dua bulan sudah intan mempersiapkan dirinya dan memantapkan hatinya untuk menikah. Walaupun ia tidak tahu siapa orang yang akan ia nikahi, tapi intan yakin bahwa orang yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya adalah pilihan terbaik.

Hari yang ditentukanpun akhirnya tiba. Hari dimana intan akan dipertemukan dengan seorang laki-laki pilihan kedua orang tuanya. Namanya fazar. Ia tinggi dan berkilit putih. Berawal dari pertemuan malam itu, akhirnya perkenalan berlanjut pada pertunangan. Tidak memerlukan waktu yang lama buat intan untuk melupakan cahya dan memantapkan hatinya pada fazar. Mungkin hal itu dikarenakan intan yang memang pelupa dan mudah melupakan kejadian buruk yang menimpanya.

Dua bulan setelah pertemuannya dengan fazar intan langsung memutuskan untuk menikah. Kabar itu ternyata langsung menyebar ke sekeliling komplek rumahnya, yang akhirnya terdengar juga oleh cahya. Cahya seakan tidak percaya mendengar kabar iru. Dalam benaknya ia bertanya-tanya bagaimana mungkin intan akan menikah secepat itu. tadinya cahya pikir intan akan menunggunya walaupun sebenarnya ia belum memutuskan hubungannya dengan lina.

Tapi penyesalan cahya sudahlah tidak berguna. Intan akan segera menikah. Segala sesuatu telah dipersiapkan. Walalupun intan masih kuliah, tapi tidak ada larangan buatnya untuk menikah.

Pernikahan intan berlangsung dengan meriah. Cahya terlihat menghadiri acara resepsi pernikahan intan. Sesak terlihat dirasakannya. Bagaimana tidak, ia harus melihat orang yang selama ini diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya ternyata tengah bersanding dipelaminan dengan laaki-laki lain. Sebelum menaiki pelaminan untuk mengucapkan selamat, cahya merapihkan pakaiannya. Ia ingin memastikan bahwa kesedihan dalam hatinya tidak ia perlihatkan pada orang lain. Waktu itu intan terlihat sangat cantik. Kembali cahya membayangkan seandainya saja orang yang berada disamping intan adalah dirinya pasti ia akan sangat bahagia. Mengingat hanya intanlah orang yang selama ini sangat memahami perasaanya. Satu-satunya orang yang dapat membuat cahya merasa nyaman. Sesaat teringat kembali waktu intan meminta sebuah kepastian pada cahya dan intan berjanji akan menunggunya. Tiba-tiba penyesalan menyelimuti hati cahya. Cahya sangat menyesal karena waktu itu dia malah menanggapi permintaan intan dengan candaan. Padahal mungkin pada saat itu intan tengah berharap padanya. Tidak tearasa mata cahya mulai berair. Ia memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu sebelum memberi selamat. Di toilet cahya berusaha mengatasi perasaannya. Berkali-kali cahya meyakinkan dirinya bahwa masih ada lina orang yang disayanginya sejak SMA. Dia pasti akan hidup bahagia bersama lina, meskipun ia tidak tahu bagaimana kabar lina sekarang.

Setelah merapihkan diri, cahya akhirnya bergegas mengucapkan selamat pada intan. Ketika berada dihadapan intan cahya sempat sedikit tertegun. Begitupun dengan intan. Tapi hal itu tidaklah lama. Senyuman intan mengingatkan cahya kalau sekarang intan telah menjadi milik orang lain. Sesegera mungkin cahya mengucapkan selamat. Kapada fazar, cahya memintanya untuk menjaga intan dengan baik. Hai itu tentu saja membuat intan tertegun sesaat. Intan senang melihat cahya menghadiri pernikahannya. Tidak ada sedikitpun niat intan untuk menyakiti cahya dengan pernikahannya itu. Intan yakin, pada akhirnya cahya akan menemukan kebahagiaan bersama lina orang yang disayangi cahya sejak SMA.  Setelah melewati intan dan fazar, cahya memutuskan untuk langsng pulang kerumahnya. Ia hawatir orang disekelilingnya menyadari kekecewaan yang sedang dirasakannya.

Seharian cahya memikirkan masa depannya dan kenyataan bahwa intan kini telah menikah. Sebentar lagi cahya lulus kuliah dan kini usianya sudah menginjak 23 tahun. Ia teringat dengan lina yang telah lama berada di pesantren tanpa memberikan kabar. Saat ini hanya sosok lina yang memberikan kekuatan pada cahya. Sosok lina yang memberikan keyakinan pada cahya bahwa penantiannya slama ini tidak akan sia-sia.
Keesokan harinya cahya memutuskan untuk menemui lina dan memastikan hubungannya. Sesampainya di pondok cahya langsung menemui lina. Pada awalnya lina memang sulit ditemui. Tapi pada akhirnya lina datang juga menghampiri cahya yang telah hampir satu jam menunggunya.

Setelah lama tidak bertemu, mereka menjadi sedikit canggung. Kata pertama yang keluar dari mulut lina adalah salam. Cahya langsung menjawab salam lina dengan senyuman. Sedikit basa-basi kemudian cahya langsung mengungkapkan maksud dari kedatangannya. Disana cahya menanyakan kelanjutan dari hubungan mereka. Ketika cahya selesai bertanya, lina hanya terdiam dan menunduk. Mata lina mulai memerah. Setelah beberapa saat tertegun, kata pertama yang keluar dari mulut lina adalah “maaf”. Kata itu diucapkan lina dengan berat. Perlahan lina mulai menjelaskan bahwa di pesantren lina sudah dilamar oleh putra dari gurunya disana. Bahkan waktu pernikahannya sudah ditentukan dan tinggal tiga bulan lagi. Bak disambar petir di siang bolong cahya sangat kaget mendengar berita itu. Cahya tidak menyangka kalau ternyata lina sudah melupakannya sejak lama. Sambil menahan air mata yang hampir menetes dimatanya, cahya lalu meminta penjelasan kenapa lina tega tidak mengabarinya slama ini. Padahal lina sendiri yang meminta cahya untuk tidak datang menemuinya selama ini. Lina sekali lagi menyampaikan maafnya. Lina menyadari kesalahannya. Lina pikir cahyapun sudah melupakan hubungannya. Karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu.

Apalagi ketika mendapatkan lamaran dari salah satu anak dari gurunya disana lina benar-benar merasa tidak enak jika menolaknya. Lina sangat menghormati gurunya.

Dengan perasaan kecewa akhirnya cahya pamit pulang. Orang yang sekian lama ditunggunya ternyata telah lama melupakannya. Kali ini cahya benar-benar sangat menyesali keputusannya untuk tetap mempertahankan lina dan membiarkan intan pergi.

Penyesalan mendalam tentu saja dirasakan cahya saat ini. Dia harus menerima kenyataan bahwa orang yang ditunggunya selama ini telah menghianatinya. Sedangkan orang yang tulus menyayanginya ia biarkan pergi begitu saja. Tanpa terasa air mata yang ia tahan selama ini mengalir deras diipinya. Setelah selesai shalat magrib cahya tertunduk dalam sujudnya. Ia mengadu pada Rabb nya .......

#Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, ataupun cerita maka itu hanya kebetulan saja...... ^_^

Semoga ada hikmah dibalik cerita ini.
Satu hal yang ingin penulis sampaikan disini: “Jodoh merupakan rahasia Allah. Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Bahkan tidak ada jaminan bahwa orang yang saat ini sedang dekat dengan kita akan menjadi jodoh kita pada akhirnya. Karena sebenarnya Allah sudah menetapkan jodoh kita bahkan ketika kita berada dalam kandungan. ” 
Terima kasih, semoga bermanfaat. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar